CPalim UNDIP Introduction

Indonesia memiliki 840 danau, 521 diantaranya berukuran lebih dari 10 Ha seluas 491.724 Ha (KLHK, 2018) dengan fungsi dan nilai manfaat langsung, fungsi ekologi, hasil produksi (ekonomis dan non ekonomis), serta kekhasan. Danau-danau di Indonesia memiliki multi fungsi (misalnya fungsi utama sebagai PLTA namun dimanfaatkan juga untuk irigasi dan budidaya perikanan. Namun, banyak danau di Indonnesia mengalami kerusakan. Secara umum, kerusakan danau di Indonesia karena pemanfaatan tanpa mengindahkan daya dukung, degradasi lingkungan dan perilaku manusia. Secara umum problem danau di Indonesia adalah sedimentasi, eutrofikasi dan pencemaran air sehingga fungsi danau menjadi terganggu. Ada 15 danau prioritas nasional yang perlu penanganan serius terkait problem di atas.

Sebagai upaya untuk mencapai pemanfaatan danau agar optimal maka disusunlah Gerakan Penyelamatan Danau (Germadan, KLH, 2011) dilanjutkan dengan Rencana Pengelolaan (RP) Danau (KLH, 2019).   Keterlibatan Center for Paleolimnology (CPalim) dalam penyusunan strategi pengelolaan danau dimulai pada tahun 2011, ketika Kementerian Lingkungan Hidup mengundang sebagai expert untuk menyusun dokumen Gerakan Penyelamatan Danau (Germadan) Rawapening sebagai pilot projek untuk Germadan danau prioritas nasional lainnya. Selanjutnya keterlibatan  dengan SKPD terkait terjalin dengan kuat, bahkan diundang untuk sharing pengalaman dengan Danau Inle Myanmar oleh UNDP. Pada tahun 2019, berkontribusi dalam penyusunan rencana Pengelolaan (RP) Danau Rawapening, dan mendapat penghargaan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

RP danau, dalam hal sebagai sumber daya air, merupakan salah satu fokus pembangunan infrastruktur dalam Rancangan Teknokratis RPJMN 2020-2024 guna mendukung ketercapaian Visi Indonesia 2045 yaitu berdaulat, maju, adil, dan makmur.  Ketahanan pangan, air, energi, dan lingkungan hidup merupakan Program Nasional 4 dalam RKP 2020, khususnya dalam meningkatkan kuantitas, kualitas, dan aksesbilitas air.

Dalam Germadan Rawapening aplikasi limnologi dan paleolimnologi sebagai landasan pengelolaan danau merupakan salah satu dari program super prioritas. Limnologi adalah ilmu yang mempelajari struktur dan fungsi perairan darat (sungai dan danau) dan inter relasinya dengan lingkungan fisik, kimia, dan biologi. Limnologi dibagi menjadi 2 yaitu neolimnologi, yang mengkaji tentang monitoring kualitas perairan dalam kurun waktu pendek (sampai 10 tahun); dan paleolimnologi, yang mempelajari kualitas perairan danau dari masa lampau hingga sekarang (kurun waktu ratusan hingga ribuan tahun). Paleolimnologi merupakan ilmu perairan darat yang memanfaatkan informasi fisik, kimia, dan biologi yang tersimpan dalam sedimen untuk merekonstruksi kondisi lingkungan di masa lampau, sehingga dapat digunakan sebagai landasan dalam pengembangan strategi pengelolaan perairan tawar (Soeprobowati, 2019).

Sedimen danau merupakan arsip alami yang merekam kejadian alami maupun antropogenik. Secara alami, aspek iklim seperti curah hujan, penguapan, temperatur, angin, dan badai akan berdampak terhadap perubahan salinitas danau, cahaya/habitat, eutrofikasi/produktivitas, stratifikasi/percampuran air, dan level air danau. Secara antropogenik, aktivitas manusia seperti penggundulan hutan, kebakaran, industry/pertambangan, pertanian/peternakan, pengaturan air/abstraksi, dan   introduksi spesies, berdampak terhadap asidikasi danau, naiknya konsentrasi logam berat di perairan, eutrofikasi/produktivitas, turbiditas/intensitas cahaya yang masuk ke perairan danau, ketersediaan karbon, level air danau (kesetimbangan air), stratifikasi/percampuran air, patogenik, dan kandungan bahan organik toksik di perairan danau (Gambar 3, Dubois et al., 2017). Sedimen danau dapat diibaratkan seperti buku harian, karena menyimpan segala yang terjadi di daerah tangkapan air, maupun di danau itu sendiri, melalui biota yang terawetkan, maupun karakteristik fisik kimia, sebagai indikator perubahan lingkungan. Indikator fisik, kimia dan biologi ini sebagai bukti segaris kejadian yang terjadi di masa lampau. Kajian paleolimnologi belum banyak ditekuni di Indonesia (Hehanusa & Haryani, 2009), bahkan kajian paleolimnologi yang dilakukan di daerah tropis masih sangat terbatas, padahal 40% danau di dunia berada di daerah tropis (Escobar et al., 2020). Perlu dan pentingnya kajian paleolimnologi tertuang sudah dalam dokumen Germadan (KLH, 2011) dan salah satu rekomendasi 16th World Lake Conference tahun 2016 (WLC16, 2016).

Gambar 3. Sedimen danau sebagai arsip alami (Dubois, et al., 2017)

Road map penelitian CPalim telah dimulai tahun 1990 fokus neolimnologi. Selanjutnya sampai dengan tahun 2009 banyak melakukan kajian tentang monitoring kualitas air. Pengembangan paleolimnologi dimulai tahun 2010. Kajian paleolimnologi telah banyak dilakukan, sebagai landasan pengembangan strategi pengelolaan danau di Indonesia, seperti Gambar 4 dengan lokus utama adalah perairan di Semarang dan daerah pantai utara Jawa.

Paleolimnologi mempunyai peranan penting dalam pengelolaan perairan, karena dapat memberikan ilustrasi kondisi lingkungan sebelum gangguan, perubahan kondisi lingkungan, bukti dampak aktivitas manusia, dan target perbaikan yang dapat ditetapkan. Studi paleolimnologi perlu dikembangkan sebagai dasar perencanaan masa depan danau. Pendekatan paleolimnologi merupakan pendekatan yang penting, sangat efektif dan murah dalam menjawab banyak permasalahan lingkungan terutama di daerah tropis, seperti perubahan tata guna lahan, eutrofikasi, pencemaran air, dan perubahan iklim (Soeprobowati et al., 2018).

Peran Universitas Diponegoro sangat penting dalam kontribusi hasil penelitian sebagai landasan pengelolaan danau berkelanjutan. Hal tersebut tertuang dalam Rencana Induk Pengembangan (RIP) Penelitian Undip tahun 2016-2020, yaitu pengembangan dan pemberdayaan sumber daya lokal Indonesia untuk peningkatan ketahanan dan keamanan pangan, derajat kesehatan, dan ketersediaan energi dan air secara berkelanjutan dan dukungan terhadap bidang penelitian strategis non-unggulan, khususnya perubahan iklim dan keragaman hayati, dengan arah topik riset zonasi ekosistem dan pendukung kawasan konservasi biota.

Berdasarkan latar belakang dan permasalahan ekosistem perairan tawar seperti diuraikan di depan, maka sudah saatnya dibangun pusat penelitian paleolimnologi, Center for Paleolimnology (CPalim)  di Indonesia. Berdasarkan RIP, PUI_PT CPalim Undip hadir berkontribusi dalam peningkatan ketahanan pangan melalui pengembangan strategi pengelolaan perairan.

Gambar 4. Milestone penelitian paleolimnologi

CPalim dibentuk dengan tujuan untuk menjadi pusat kajian terkemuka, berstandar internasional dengan orientasi saintifik, khususnya dalam bidang paleolimnologi sebagai landasan dalam pengembangan strategi pengelolaan danau agar fungsi utamanya untuk irigasi dapat optimal, sehingga produktivitas pertanian meningkat dan mandiri pangan. Hal ini selaras dengan visi Undip menjadi unisersitas riset yang unggul.

Berdasarkan hasil analisis bibliometrik dengan VosViewer terhadap jurnal terindeks Scopus,   dengan kata kunci paleolimnology, water resources, renewable energy, food security, dan climate changes, maka ada hubungan yang sangat kuat antara paleolimnologi, perubahan iklim, dan ketahanan pangan, diindikasikan dengan warna kuning yang semakin tajam (Gambar 6). Hal ini membuktikan bahwa CPalim mempunyai peranan sangat kuat dalam memperkuat ketahanan pangan melalui adaptasi dan mitigasi perubahan iklim.

Gambar 5. Visualisasi densitas perkembangan penelitian paleolimnologi

CPalim merupakan pusat penelitian multi disiplin sehingga kolaborasi antara peneliti maupun fasilitas pendukung sangat kuat. Inilah keunggulan yang dimiliki.  Saat ini peneliti berasal bari bidang ilmu Biologi, ilmu Lingkungan, Teknik Lingkungan, Geologi, Manajemen Perairan, remote sensing dan permodelan. Dalam roadmap penelitian yang dikembangkan (Gambar 4), maka pada tahun 2020 ditargetkan berdirinya CPalim, meskipun sejak tahun 2010 sudah dikembangkan dengan berkolaborasi peneliti dari dalam Undip, BATAN, maupun peneliti asing dengan kepakaran yang sama. Detail dari keunggulan disampaikan dalam form asesmen.

CPalim memiliki berbagai aktivitas untuk pengembangan sains dan teknologi dalam bidang perairan meliputi aspek biotik, abiotik dan kultur. Kajian perairan tidak hanya terbatas pada badan air saja, namun juga pada daerah tangkatan air, karena pada umumnya akar permasalahan perairan berasal dari DTA. Aktivitas yang dilakukan tidak hanya pengembangan keilmuan, namun implementasi hasil penelitian merupakan langah yang tidak kalah penting agar memiliki nilai manfaat pada masyarakat. Secara umum aktivitas dapat dibagi dalam 3 hal, yaitu penguatan kelembagaan, academic excellent, dan komersialisasi dan pemanfaat riset

Oleh Prof. Dr. Tri Retnaningsih Soeprobowati, MAppSc

Admin Cpalim

1 comment so far

Kegiatan CPalim UNDIP Part 1 – Center of Paleolimnology

[…] Penelitian di CPalim mencakup berbagai aspek limnologi, pemanfaatan diatom sebagai bioindicator terutama fokus pada […]

Leave a Reply